Jumat, 31 Juli 2009

PENGKAJIAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS DAYEUHKOLOT

BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Tujuan nasional Bangsa Indonesia sebagaimana yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 adalah melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum , mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.Untuk mencapai tujuan tersebut diselenggarakanlah program pembangunan nasional secara menyeluruh dan berkesinambungan.Pembangunan kesehatan adalah bagian dari pembangunan nasional yang bertujuan meningkatkan kesadaran , kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya.Pembangunan kesehatan tersebut merupakan upaya seluruh potensi Bangsa Indonesia,baik masyarakat,swasta maupun pemerintah.Masyarakat diharapkan mampu berperan sebagai pelaku pembangunan kesehatan dalam menjaga, memelihara, dan meningkatkan kesehatannya sendiri serta berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakatnya.

Salah satu strategi yang direncanakan Departemen Kesehatan Republik Indonesia adalah menggerakan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat.Pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan mendorong masyarakat agar mampu secara mandiri menjamin terpenuhinya kebutuhan kesehatan dan kesinambungan pelayanan kesehatan.Dalam pemberdayaan masyarakat perlu dikembangkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM ) dalam rangka mewujudkan Desa Siaga menuju Desa Sehat.Pengembangan Desa Siaga harus melibatkan Lembaga Swadaya Masyarakat(LSM) utamanya PKK, organisasi keagamaan dan sektor swasta.Keberhasilan Desa Siaga ditandai oleh antara lain berkembangnya perilaku hidup bersih dan sehat, serta dikembangkan dan beroperasinya UKBM yang mampu memberikan pelayanan promotif, preventif, kuratif, keluarga berencana, perawatan kehamilan dan pertolongan persalinan, peningkatan gizi dan penanganan kedaruratan kesehatan.Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat serta pemberdayaan masyarakat bertujuan juga untuk memberdayakan individu , keluarga dan masyarakat dalam bidang kesehatan agar dapat memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatannya sendiri dan lingkungannya menuju masyarakat yang sehat, mandiri dan produktif.Sehingga tercapailah Masyarakat Yang Mandiri Untuk Hidup Sehat yaitu suatu kondisi di mana masyarakat Indonesia menyadari, mau, dan mampu untuk mengenali, mencegah, dan mengatasi permasalahan kesehatan yang dihadapi, sehingga dapat bebas dari gangguan kesehatan akibat bencana, maupun lingkungan dan perilaku yang tidak mendukung untuk hidup sehat (Visi Departemen kesehatan ).

Puskesmas sebagai Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD)bertanggungjawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di wilayahnya.Pembangunan Kesehatan yang diselenggarakan oleh puskesmas adalah untuk mendukung tercapainya tujuan pembangunan kesehatan nasional.Sehubungan dengan hal tersebut Puskesmas Dayeuhkolot berusaha untuk meningkatkan kinerjanya dalam pelayanan kesehatan baik berupa usaha promotif, preventif, kuratif serta adanya kerja sama dengan lintas sektor. Upaya Promosi Kesehatan dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat adalah salah satu upaya yang diselenggarakan oleh Puskesmas Dayeuhkolot.

1.2 Masalah
a. Data Umum
Puskesmas Dayeuhkolot terletak di Jalan Raya Dayeuhkolot, kurang lebih 10km dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung, dengan luas wilayah 462ha, dan terdiri dari 3 Desa dari 6 Desa yang ada di Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, yaitu Desa Citereup, Desa Dayeuhkolot, dan Desa Sukapura. Adapun batas wilayah adalah :
- Utara : Desa Pasawahan Kecamatan Dayeuhkolot
- Selatan : Kecamatan Baleendah
- Barat : Desa Cangkuang Kecamatan Dayeuhkolot
- Timur : Desa Bojongsoang Kecamatan Bojongsoang
Topografi wilayah kerja Puskesmas Dayeuhkolot adalah dataran rendah, sebagian besar dilalui oleh aliran sungai Citarum dengan ketinggian dari permukaan laut kurang lebih 600 meter sampai 732 meter dan curah hujan 2400mm/thn, sehingga wilayah kerja merupakan daerah rawan banjir di mana dari 37 RW terdapat 15 RW merupakan daerah rawan banjir yaitu 6 RW di Desa Citeureup dan 9 RW di Desa Dayeuhkolot.Dari 3 desa binaan Puskesmas Dayeuhkolot tersebut hanya satu desa yaitu Desa Citeureup yang
telah menjadi Desa Siaga sejak bulan Juni tahun 2006.



b. Demografi
Jumlah Penduduk Wilayah Puskesmas Dayeuolot tahun 2008 yaitu 60.167 jiwa terdiri dari :
Tabel 1. Jumlah Penduduk tahun 2008
no DESA Jumlah penduduk Jumlah keluarga miskin Persentase keluarga miskin JML RW JML PY
1.
2.
3. Citereup
Dayeuhkolot
Sukapura 26.182
24.754
9.231 5.727
1.244
2.466 21.8 %
5.02%
26.7% 17
14
6 17
14
6
60.167 9.437 37 37
Sumber Data validasi data JPS tahun 2007
Dari tabel di atas tampak penyebaran penduduk yang tidak merata di setiap desa.Dimana 43,5 % berada di Desa Citeureup, 41,1 % berada di Desa Dayeuhkolot dan 15,5 % berada di Desa Sukapura.Pemberdayaan Masyarakat sudah baik, dimana semua RW di wilayah kerja telah mempunyai posyandu.

c. Data Sarana dan Prasarana
Puskesmas Dayeuhkolot mempunyai 1 buah puskesmas pembantu yang terletak di Desa Sukapura dan 1 buah polindes yang terletak di desa Citeureup.

Tabel 2. Data Fisik Puskesmas
Nama Puskesmas PUSKESMAS DAYEUH KOLOT
Kode Puskesmas 3 2 0 4 1 7 0 1

Alamat
Jalan Raya Dayeuhkolot
Tlp. (022)5223805
Status Puskesmas TTP
Status Puskesmas Dalam Program TB Paru PS
Jumlah Tempat Tidur -
Ruang laboratorium Ada
Kondisi Puskesmas Baik
Tahun Pembangunan ± 2008
Jumlah Pustu 1
Polindes 1
Jumlah Desa Yang Dilayani 3 Desa
Batas Wilayah :
- Utara
- Barat
- Timur
- Selatan
Desa Pasawahan
Desa Cangkuang
DesaBojongsoang
Desa Baleendah

d. Data Jenis Ketenagaan
Tabel 3. Jenis Ketenagaan
JENIS KETENAGAAN
1. Dokter
- Dokter umum PNS : 2 Org PTT : - Org
- Dokter Gigi PNS : 1 Org PTT : - Org
2. Apoteker PNS : - Org PTT : - Org
3. SKM PNS : - Org PTT : - Org
4. Sarjana Lain PNS : - Org PTT : - Org
5. Paramedis Keperawatan
- AKPER PNS : 1 Org PTT : - Org
- SPK/SPR PNS : 2 Org PTT : - Org
- Bidan PNS : 4 Org PTT : - Org
- Bidan Desa PNS : 1 Org BHL : 1 Org
6. Paramedis Non Keperawatan
- APK PNS : - Org PTT : - Org
- AKZI PNS : - Org PTT : - Org
- AAK PNS : - Org PTT : - Org
- Akademi Lainnya
- AKL PNS : - Org PTT : - Org
- SPPH PNS : 1 Org PTT : - Org
- SPAG PNS : 1 Org PTT : - Org
- SPRG PNS : 1 Org PTT : - Org
- AKG PNS : - Org PTT : - Org
- SAA PNS : 1 Org PTT : - Org
7. Pembentu Paramedis PNS : - Org PTT : - Org
8. Non Kesehatan PNS : 6 Org PTT : - Org
JUMLAH PNS : 21 Org BHL : 1 Org

Tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas Dayeuhkolot pada tahun 2008 sebanyak 21 orang terdiri dari 2 orang dokter umum,terbagi 1 orang sebagai Kepala Puskesmas dan I orang dokter umum di BP.1 orang dokter gigi,3 orang perawat,4 orang bidan Puskesmas,1 bidan desa PNS dan 1 bidan desa BHL.

e. Data Kesehatan
Dibawah ini kami sajikan hasil pengkajian PHBS tatanan rumah tangga di wilayah kerja Puskesmas Dayeuhkolot tahun 2008 dengan mengambil sampling secara acak dengan jumlah 210 KK.

Tabel 4. HASIL PENGKAJIAN PHBS TAHUN 2008
No.
1 Indikator
Ibu Bersalin Oleh Tenaga Kesehatan Prosentase
Citeureup Dayeuhkolot Sukapura
1 Ibu Bersalin Oleh Tenaga Kesehatan 100% 100% 100%
2 Ibu Memberikan ASI Ekslusif 100% 100% 100%
3 Tidak Ada Anggota Keluarga Yang Merokok 93,88% 31,75% 25,31%
4 Melakukan Aktivitas Fisik/Olah Raga Setiap Hari 51.73% 33,26 64,19%
5 Makan Dengan Gizi Seimbang (Makan Sayur Dan Buah Setiap Hari) 86,32% 62,33 73,33%
6 Mencuci Tangan Pakai Sabun 99.95% 62,67 74,68%
7 Mempunyai Jaminan Kesehatan 59,39% 48,85 30,48%
8 Tersedia Sarana Air Bersih 93,88% 63,93% 64,66%
9 Tersedia Jamban Bersih 90,96% 62,67% 57,90%
10 Kesesuaian Luas Lantai Dengan Jumlah Penghuni 90,32% 56,64% 70,86%
11 Lantai Rumah Bukan Dari Tanah 95,53% 63,65% 73,79%
12 Rumah Bebas Jentik 96,66% 53,38% 73,79%

Dari tabel di atas dapat kita lihat pencapaian cakupan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Desa Citeureup tampak lebih besar dibandingkan dengan 2 desa lainnya.Hasil di Desa Citeureup pada indicator ibu bersalin oleh tenaga kesehatan dan memberikan ASI eksklusif mencapai 100%, tidak ada keluarga yang merokok 93,88%, melakukan aktifitas olah raga 51,73%, makan dengan gizi seimbang 86,32%, mencuci tangan pakai sabun 99,95%, dan mempunyai jaminan kesehatan 59,39%.Adapun pada indikator lingkungan hasil untuk desa citeureup yaitu tersedia sarana air bersih 93,88%, tersedia jamban bersih 90,96%, kesesuaian luas lantai dengan jumlah penghuni 90,32%, lantai rumah bukan dari tanah 95,53% dan rumah bebas jentik 96,66%.
1.3 Perumusan Masalah
Dari hasil yang didapat berdasarkan data hasil pengkajian PHBS tatanan rumah tangga yang diselenggarakan tahun 2008 di wilayah kerja Puskesmas Dayeuhkolot di buat rumusan masalah “ Usaha-usaha apakah yang dapat dilakukan dalam upaya penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat agar dapat optimal sehingga dapat terwujud Desa Siaga menuju Desa Sehat di seluruh wilayah kerja Puskesmas Dayeuhkolot ? “

1.4 Tujuan

1.4.1 Tujuan Umum
Tujuan pembuatan karya tulis ilmiah ini adalah sebagai kajian keberhasilan program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Puskesmas Dayeuhkolot.

1.4.2 Tujuan Khusus
a. Untuk mengetahui faktor pendukung dan faktor penghambat
pelaksanaan Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.
b. Untuk mengetahui faktor-faktor penghambat pembentukan desa siaga.
c. Untuk mendapatkan informasi tingkat kesulitan di lapangan yang
menghambat pelaksanaan Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat.

1.5 Manfaat
Manfaat yang diharapkan dari pembuatan karya tulis ilmiah ini adalah ;
a. Sebagai tolok ukur keberhasilan program PHBS di Puskesmas
Dayeuhkolot.
b. Sebagai bahan referensi untuk peningkatan program kesehatan agar
berkesinambungan.
c. Sebagai acuan dan penentu arah kebijakan untuk stake holder.























BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN

Pembangunan Kesehatan merupakan bagian integral dan terpenting dari Pembangunan Nasional.Tujuan diselenggarakannya pembangunan kesehatan adalah meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal.Keberhasilan pembangunan kesehatan berperan penting dalam meningkatkan mutu dan daya saing sunber daya manusia Indonesia.Untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan tersebut diselenggarakan berbagai upaya kesehatan secara menyeluruh, berjenjang dan terpadu.

Puskesmas adalah unit pelaksana teknis sinas kesehatan kabupaten/kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja.
1. Unit pelaksana teknis
Sebagai unit pelaksana teknis dinas kesehatan kabupaten/kota (UPTD), puskesmas berperan menyelenggarakan sebagian dari tugas teknis operasional dinas kesehatan kabupaten/kota dan merupakan unit pelaksana tingkat pertama serta ujung tombak pembangunan kesehatan di Indonesia.
2. Pembangunan Kesehatan
Pembangunan kesehatan adalah penyelenggaraan upaya kesehatan oleh bangsa Indonesia untuk meningkatkan kesadaran , kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal.
3. Pertanggungjawaban Penyelenggaraan
Penanggungjawab sebagian upaya pembangunan kesehatan yang dibebankan oleh dinas kesehatan kabupaten atau kota sesuai dengan kemampuannya.

4. Wilayah kerja
Secara nasional standar wilayah kerja puskesmas adalah satu kecamatan.

Untuk tercapainya pembangunan kesehatan, Puskesmas menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat. Upaya tersebut dikelompokan menjadi 2 yakni upaya kesehatan wajib dan upaya kesehatan pengembangan. Upaya kesehatan wajib tersebut adalah
a. Upaya Promosi Kesehatan
b. Upaya Kesehatan Lingkungan
c. Upaya KIA dan KB
d. Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat
e. Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular
f. Upaya Pengobatan.

Perilaku hidup bersih dan sehat merupakan salah satu strategi dalam program promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat. Sesuai dengan fungsi puskesmas yaitu menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan memiliki makna bahwa puskesmas harus berperan sebagai motor dan motivator terselenggaranya pembangunan yang mengacu, berorientasi, serta dilandasi oleh kesehatan sebagai factor pertimbangan utama. Pembangunan yang dilaksanakan di kecamatan, seyogyanya yang berdampak positif terhadap lingkungan sehat dan perilaku sehat, yang muatanya adalah peningkatan kesehatan masyarakat. Fungsi menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan dapat dinilai dari seberapa jauh institusi jajaran non kesehatan memperhatikan kesehatan bagi institusi dan warganya. Pengkajian PHBS meliputi pengkajian PHBS sekolah, tempat kerja, dan tempat-tempat umum serta rumah tangga.
PHBS di rumah tangga diarahkan untuk memberdayakan setiap keluarga atau anggota rumah tangga agar tahu, mau, dan mampu menolong diri sendiri di bidang kesehatan dengan mengupayakan lingkungan yang sehat, mencegah dan menanggulangi masalah-masalah kesehatan yang dihadapi, memanfaatkan sarana pelayanan kesehatan yang ada, serta berperan aktif mewujudkan kesehatan masyarakatnya dan mengembangkan upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat.

Indikator perilaku hidup bersih dan sehat :
1. Ibu Bersalin Oleh Tenaga Kesehatan
2. Ibu Memberikan ASI Ekslusif
3. Tidak Ada Anggota Keluarga Yang Merokok
4. Melakukan Aktivitas Fisik/Olah Raga Setiap Hari
5. Makan Dengan Gizi Seimbang (Makan Sayur Dan Buah Setiap Hari)
6. Mencuci Tangan Pakai Sabun
7. Mempunyai Jaminan Kesehatan
8. Tersedia Sarana Air Bersih
9. Rumah Bekas Jentik
10. Kesesuaian Luas Lantai Dengan Jumlah Penghuni
11. Lantai Rumah Bukan Dari Tanah
12. Tersedia Jamban Bersih
Klasifikasi strata PHBS adalah sebagai berikut :
1. Strata PHBS I apabila rumah tangga sehat mencapai <25%
2. Strata PHBS II apabila rumah tangga sehat mencapai 25%-49%
3. Strata PHBS III apabila rumah tangga sehat mencapai 50%-75%
4. Strata PHBS IV apabila rumah tangga sehat mencapai >75%

Dalam era reformasi,masyarakat harus dapat berperan aktif dalam pembangunan kesehatan,dimulai sejak penyusunan berbagai kebijakan pembangunan kesehatan. Pemberdayaan masyarakat dilakukan dengan mendorong masyrakat agar mampu secara mandiri menjamin terpenuhinya kebutuhan kesehatan dan kesinambungan pelayanan kesehatan. Dalam pemberdayaan masyarakat perlu terus dikembangkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) dalam rangka mewujudkan Desa Siaga menuju Desa Sehat.
Pengertian Desa Siaga adalah desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah-masalah kesehatan,bencana,dan kegawatdaruratan kesehatan, secara mandiri.
Tujuan Desa Siaga adalah ;
a. Meningkatnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat desa tentang pentingnya kesehatan.
b. Meningkatnya kegiatan masyarakat desa dalam mengantisipasi dan melaksanakan tindakan penyelamatan ibu hamil, melahirkan, nifas, bayi dan anak menuju penurunan Angka Kematian Bayi dan Angka Kematian Ibu.
c. Meningkatnya kegiatan masyarakat desa dalam pengamatan penyakit/factor-faktor resiko dan kesiapsiagaan serta penanggulangan bencana, kejadian luar biasa, wabah dan kegawatdaruratan.
d. Meningkatnya keluarga yang sadar gizi (Kadarzi) serta melaksanakan PHBS.
e. Meningkatnya sanitasi dasar (RAKSA).
f. Meningkatnya kemauan dan kemampuan masyarakat desa untuk menolong diri sendiri dibidang kesehatan dengan melaksanakan upaya pencegahan dan peningkatan kesehatan,akses terhadap pelayanan kesehatan,mengembangkan berbagai UKBM dan sistem pembiayaan berbasis masyarakat.

Indikator Desa Siaga adalah :
1. Adanya Forum Masyarakat Desa
2. Adanya sarana atau fasilitas pelayanan kesehatan dasar dan sistem rujukannya.
3. Adanya UKBM yang dikembangkan.
4. Adanya sistem pengamatan penyakit dan faktor resiko berbasis masyarakat.
5. Adanya sistem kesiap-siagaan penanggulangan kegawatdaruratan dan bencana berbasis masyarakat.
6. Adanya upaya menciptakan dan terwujudnya lingkungan sehat.
7. Adanya upaya menciptakan dan terwujudnya PHBS.
8. Adanya upaya menciptakan keluarga sadar gizi.




















BAB III
KERANGKA PIKIR

Tujuan pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh puskesmas adalah mendukung tercapainya tujuan pembangunan kesehatan nasional yakni meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang yang bertempat tinggal di wilayah kerja puskesmas agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya dalam rangka mewujudkan Indonesia Sehat 2010. Tanggungjawab puskesmas sebagai unit pelaksana teknis adalah menyelenggarakan sebagian tugas pembangunan kesehatan yang dibebankan oleh Dinas Kesehatan kabupaten/kota.Untuk hasil yang optimal, penyelenggaraan pembangunan kesehatan tersebut harus dapat dikoordinasikan dengan berbagai lintas sektor terkait yang ada di tingkat kecamatan.Diharapkan di satu pihak, penyelenggaraan pembangunan kesehatan di kecamatan tersebut mendapat dukungan dari berbagai sektor terkait, sedangkan di pihak lain pembangunan yang diselenggarakan oleh sektor lain di tingkat kecamatan berdampak positif terhadap kesehatan.

Puskesmas memerlukan dukungan aktif dari masyarakat sebagai objek dan subjek pembangunan.Dalam salah satu pelaksanaan azas penyelenggaraan puskesmas yaitu Azas Pemberdayaan Masyarakat mempunyai arti puskesmas wajib memberdayakan perorangan, keluarga dan masyarakat, agar berperan aktif dalam penyelenggaraan setiap upaya puskesmas.Hal lain yang tidak kalah pentingnya adalah azas keterpaduan, yang diperlukan untuk mengatasi keterbatasan sumberdaya serta diperolehnya hasil yang optimal, baik berupa keterpaduan lintas program maupun keterpaduan lintas sektor.

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat(PHBS) merupakan salah satu indikator kemajuan pembangunan kesehatan masyarakat. Dalam pembangunan kesehatan, masyarakat diharapkan mampu berperan sebagai pelaku pembangunan kesehatan, harapan tersebut dapat terwujud apabila masyarakat diberdayakan sepenuhnya dengan segala daya yang dimiliki untuk dapat menerapkan PHBS dalam kehidupannya sehari-hari.Pemberdayaan masyarakat harus dimulai dari rumah tangga, karena rumah tangga yang telah melaksanakan PHBS merupakan asset dan modal pembangunan kesehatan di masa yang akan depan yang perlu dijaga, dilindungi dan ditingkatkan kesehatannya.Penerapan PHBS di rumah tangga merupakan salah satu upaya strategis untuk menggerakkan dan memberdayakan keluarga atau anggota rumah tangga untuk hidup bersih dan sehat.PHBS di rumah tangga diarahkan untuk memberdayakan setiap keluarga atau anggota rumah tangga agar tahu, mau dan mampu menolong diri sendiri di bidang kesehatan dengan mengupayakan lingkungan yang sehat, mencegah dan menanggulangi masalah-masalah kesehatan yang dihadapi, memanfaatkan sarana pelayanan yang ada, serta berperan aktif mewujudkan kesehatan masyarakatnya dan mengembangkan upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat.Dengan demikian diharapkan pembinaan PHBS di rumah tangga dapat mempercepat terwujudnya rumah tangga ber-PHBS untuk menjadi rumah tangga sehat, sebagai salah satu indikator desa siaga yang akhirnya akan mewujudkan Desa Sehat yang pada akhirnya mendukung Indonesia sehat.












BAB IV
PEMBAHASAN

Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat serta pemberdayaan masyarakat bertujuan juga untuk memberdayakan individu , keluarga dan masyarakat dalam bidang kesehatan agar dapat memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatannya sendiri dan lingkungannya menuju masyarakat yang sehat, mandiri dan produktif.Sehingga tercapailah Masyarakat Yang Mandiri Untuk Hidup Sehat yaitu suatu kondisi di mana masyarakat Indonesia menyadari, mau, dan mampu untuk mengenali, mencegah, dan mengatasi permasalahan kesehatan yang dihadapi, sehingga dapat bebas dari gangguan kesehatan akibat bencana, maupun lingkungan dan perilaku yang tidak mendukung untuk hidup sehat (Visi Departemen kesehatan ).

Puskesmas sebagai Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) bertanggungjawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di wilayahnya.Pembangunan Kesehatan yang diselenggarakan oleh puskesmas adalah untuk mendukung tercapainya tujuan pembangunan kesehatan nasional.Sehubungan dengan hal tersebut Puskesmas Dayeuhkolot berusaha untuk meningkatkan kinerjanya dalam pelayanan kesehatan baik berupa usaha promotif, preventif, kuratif serta adanya ker ja sama dengan lintas sektor.

Pelaksanaan pembangunan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas Dayeuhkolot diselenggarakan sesuai dengan azas penyelenggaraan puskesmas yaitu Azas Pertanggungjawaban Wilayah. Azas Pemberdayaan Masyarakat , Azas keterpaduan dan Azas Rujukan. Puskesmas Dayeuhkolot dalam pelaksanan upaya kesehatannya selalu berusaha melakukan koordinasi baik itu secara lintas program maupun lintas sektor. Pada bab sebelumnya telah disajikan bahwa dari hasil pengkajian PHBS rumah tangga yang dilakukan pada tahun 2008 terdapat perbedaan antara hasil pengkajian PHBS Desa Citeureup dengan Desa Dayeuhkolot dan Sukapura.Untuk indikator persalinan oleh tenaga kesehatan dan pemberian ASI eksklusif semua sudah mencapai 100 %.Indikator tidak ada anggota keluarga yang merokok Desa Citeureup mencapai 93,88%, sedangkan Desa Sukapura 25,31 dan Desa Dayeuhkolot 31,75 %.Indikator melakukan aktifitas olah raga Desa Citeureup 51,73%, Desa Sukapura 33,26% dan Desa Dayeuhkolot 64,19%.Indikator makan dengan gizi seimbang untuk Desa Citeureup 86,32%, Desa Dayeuhkolot 62,23% dan Desa Sukapura 73,33%.Indikator mencuci tangan pakai sabun untuk Desa Citeureup 99,95%, Desa Dayeuhkolot 62,67% dan Desa Sukapura 74,68%.Indikator mempunyai jaminan kesehatan untuk Desa Citeureup 59,39%, Desa Dayeuhkolot 48,85% dan Sukapura 30,48%. Indikator tersedia sarana air bersih Desa Citeureup 93,88%, Desa Dayeuhkolot 63,93% dan Desa Sukapura 64,66%.Indikator tersedia jamban bersih untuk Desa Citeureup 90,96%, Desa Dayeuhkolot 62,67% dan Desa Sukapura 57,90%.Indikator kesesuaianluas lantai dengan jumlah penghuni untuk Desa Citeureup 90,32% , Desa Dayeuhkolot 56,64% dan Desa Sukapura 73,79%.Indikator lantai rumah bukan dari tanah untuk Desa Citeureup 95,53%, Desa Dayeuhkolot 63,65% dan Desa Sukapura 73,79%.Indikator rumah bebas jentik untuk Desa Citeureup 96,66%, Desa Dayeuhkolot 53,38% dan Desa Sukapura 73,79%.
Bila kita telaah hasil pengkajian tersebut dapat dilihat bahwa hasil untuk Desa Citeureup lebih baik dibanding dengan 2 desa lainnya.Pada pelaksanaan di lapangan sejak terbentuknya Desa Citeureup menjadi Desa Siaga dan mendapat bantuan Program Pendanaan Kompetisi – PPK IPM dari bantuan Gubernur Jawa Barat terlihat dampak yang sangat nyata, di mana hasil cakupan untuk upaya kesehatan meningkat.Di bawah ini kami sajikan cakupan Polindes Desa Citeureup tahun 2007 dan 2008.





Tabel 5
Hasil cakupan KIA Polindes Desa Citeureup tahun 2007 dan 2008

Cakupan 2007 2008
K1
100,2% 101,1%
K4 96,9% 93,59%
Linakes 91,8% 109,51%
Neonatus 97,2% 94,5%
Restibumil 3,8% 3,11%
DPT 1 99% 100,6%
DPT 3 94% 96,5%
Polio 94,2% 95,5%
TT 1 98,4% 101,6%
TT 2 93% 93,2%
Campak 95,2% 95,5%

Dari tabel diatas dapat dilihat cakupan Program KIA Polindes Desa Citeureup semakin baik dan selalu di atas target.Hal ini didukung pula oleh indikator Desa Siaga yang telah dilaksanakan seperti :
- Adanya Forum Masyarakat Desa , yang terdiri dari 10 orang fasilitator terlatih dan organisasi yang telah berjalan dengan baik.
- Adanya UKBM yang dikembangkan seperti Posyandu setiap RW, 3 buah PAUD, 3 buah Posbindu, 3 buah BKB, 3 kelompok olah raga,kelompok donor darah, dan angkutan ibu bersalin.
- Telah terbentuk Satuan Koordinasi Pelaksana (Satkorlak) penanggulangan bencana.
- Adanya pendataan dan visualisasi data PHBS rumah tangga.
- Adanya upaya menciptakan keluarga sadar gizi.
- Adanya sistem pengamatan penyakit dan faktor resiko berbasis masyarakat berupa pembuatan stiker ibu hamil dan resiko tinggi.

Pada pengamatan di lapangan penerapan PHBS tanpa dukungan dari Muspika dan masyarakat sangatlah sulit dilaksanakan.Walaupun adanya bantuan dari PPK-IPM tetapi tanpa dukungan masyarakat dan aparat setempat pelaksanaan PHBS menuju Desa Siaga sulit diwujudkan.Perlu adanya suatu komitmen yang kuat dari Muspika dalam pelaksanaan upaya kesehatan ini, dimana terkadang timbul opini bahwa upaya kesehatan hanyalah milik puskesmas atau dinas kesehatan saja. Atau kadang alasan keadaan ekonomi menjadi kendala.Dalam pelaksanaan di lapangan sangat terasa dukungan aparat desa dan masyarakat Desa Citeureup sangat besar dalam pelaksanaan PHBS dan mewujudkan terbentuknya Desa Siaga.Sayangnya hal ini belum dapat dilaksanakan di 2 desa lainnya.Padahal apabila kita kaji lebih dalam dampak kesehatan yang dirasakan akan sangat besar terhadap kehidupan sekarang dan yang akan datang.

Berdasarkan Teori H.L.Blum bahwa derajat kesehatan yang paling besar dipengaruhi oleh 4 faktor, yaitu 45% lingkungan, 30% perilaku, 20% pelayanan kesehatan dan 5% keturunan.Di sini jelas bahwa faktor lingkungan dan perilaku mempunyai kontribusi sangat besar terhadap kualitas derajat kesehatan.Penerapan PHBS pada berbagai tatanan merupakan investasi yang sangat besar, untuk itu diperlukan suatu peraturan walaupun yang sifatnya sangat mengikat agar para penentu kebijakan di luar Dinas Kesehatan memahami pentingnya penerapan PHBS ini atau diberikan suatu dana stimulus untuk masyarakat seperti yang telah dilaksanakan.

Perlu adanya suatu kebijakan yang berkesinambungan dalam penyelenggaraan pemerintah, yang tidak akan berubah atau terhenti dikarenakan terjadi pergantian kepemimpinan, hal ini sering terjadi di lapangan .Keadaan ini terjadi di karena pelaksanaan manajemen yang kurang baik, misalnya pada kepemimpinan yang lama telah dibuat suatu program masalah penanggulangan sampah dalam upaya Gerakan Bersih Lingkungan Setiap Saat(GBLSS), karena terjadi mutasi pegawai dan tidak adanya koordinasi serta administrasi yang baik, sehingga usaha yang telah dirintis kembali menemui jalan buntu. Untuk mengatasi hal ini perlu diperbaiki fungsi manajemen agar saling berkesinambungan.

Upaya lain yang dapat ditempuh adalah pemberian penghargaan kepada perorangan, kelompok atau lembaga di masyarakat yang telah mendukung pelaksanaan pembangunan kesehatan ini.Pemberian penghargaan tersebut tidak harus selalu dalam bentuk materi tetapi dapat dalam bentuk sederhana seperti kartu sebagai kader aktif posyandu yang dicanangkan secara nasional atau pembuatan hymne kader kesehatan seperti yang diciptakan untuk para guru, sehingga para kader kesehatan merasa bangga dengan kiprahnya mendukung pembangunan kesehatan.























BAB V
KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

5.1 Kesimpulan
Dari pembahasan pada bab selanjutnta dapat disimpulkan bahwa :
- Pemberdayaan masyarakat sangat berperan penting dalam pengembangan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) menuju Desa Siaga untuk mewujudkan Desa Sehat dan mencapai Indonesia Sehat 2010.
- Pada desa yang telah menerapkan PHBS serta dikembangkan menjadi Desa Siaga tampak hasil yang nyata dalam peningkatan cakupan program kesehatan.
- Faktor-faktor yang kurang mendukung PHBS antara lain kurangnya komitmen yang kuat dari penentu kebijakan untuk menerapkan PHBS, koordinasi dan manajemen tingkat Muspika harus diperbaiki.
- Kegiatan yang dapat dilakukan untuk mendukung PHBS antara lain adanya komitmen yang kuat dari penentu kebijakan, pelaksanaan manajemen dan koordinasi dalam semua sektor diperbaiki, dibut peraturan yang mengikat dalam pelaksaan PHBS, adanya kebijakan yang berkesinambungan, dan pemberian penghargaan kepada perorangan, kelompok atau lembaga yang mendukung pembangunan kesehatan.


5.2 Rekomendasi
Bentuk kegiatan yang direkomendasikan :
a. Adanya komitmen yang kuat dari penentu kebijakan dalam penerapan PHBS.
b. Adanya koordinasi dan manajemen yang baik dalam semua sektor terkait.
c. Ditetapkannya peraturan yang mengikat mengenai penerapan PHBS.
d. Memberikan dana stimulus dalam rangka pengembangan Desa Siaga.
e. Adanya kebijakan yang berkesinambungan.
f. Pembuatan Kartu Kader Kesehatan yang bersifat nasional.
g. Diciptakan Hymne Kader Kesehatan.































Abstrak

Pembangunan kesehatan adalah bagian dari pembangunan nasional yang bertujuan meningkatkan kesadaran,kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan salah satu indikator kemajuan pembangunan kesehatan masyarakat,Pemberdayaan masyarakat sangat berperan dalam menerapkan PHBS.Penerapan PHBS di rumah tangga merupakan upaya strategis untuk mempercepat terbentuknya rumah tangga ber-PHBS kemudian dikembangkan menjadi Desa Siaga untuk menuju Desa Sehat yang pada akhirnya mewujudkan Indonesia Sehat.


















KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas berkah dan rahmat-Nya, tersusunlah karya tulis ilmiah dengan judul : Pengkajian Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Wilayah Kerja Puskesmas Dayeuhkolot.

Kami menyadari penyusunan karya tulis ilmiah ini masih banyak kekurangan, untuk itu kritik dan saran sangat kami butuhkan.

Akhir kata semoga karya tulis ilmiah ini dapat bermanfaat bagi kita semua, khususnya untuk pelaksanaan pembangunan di Puskesmas Dayeuhkolot.



Bandung, 13 Mei 2009
Penulis


Vini Adiani Dewi, dr












DAFTAR ISI

Abstrak .......................................................................................................i
Kata Pengantar ..........................................................................................ii
Daftar Isi ..................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN ........................................................................1
1.1 Latar Belakang ......................................................................1
1.2 Masalah .................................................................................2
1.3 Perumusan Masalah ..............................................................7
1.4 Tujuan Umum dan Khusus ...................................................7
1.5 Manfaat .................................................................................8
BAB II TINJAUAN LITERATUR ..........................................................9
BAB III KERANGKA PIKIRAN ..........................................................14
BAB 1V PEMBAHASAN .....................................................................16
BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI .................................21
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................22
LAMPIRAN















DAFTAR PUSTAKA

- Departemen Kesehatan RI, Direktorat Jenderal Pembinaan Kesehatan Masyarakat, ARRIF Pedoman Manajemen Peranserta Masyarakat, Jakarta 2001.
- Departemen Kesehatan RI, Proyek Keluarga dan Gizi, ARRIME Pedoman Manajemen Puskesmas, Jakarta 2002.
- Departemen Kesehatan RI, Kebijakan Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat, Jakarta 2004.
- Departemen Kesehatan RI, Rencana Strategis Departemen Kesehatan Tahun 2005-2009, Jakarta Mei 2006.
- Departemen Kesehatan RI, Sistem Kesehatan Nasional, Jakarta 2004.
- Departemen Kesehatan RI, Pusat Promosi Kesehatan, Rumah Tangga Sehat Dengan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat, Jakarta 2008.
- Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat,Petunjuk Teknis Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Di Rumah Tangga,Bandung 2008.
- Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung, Tim Pembina Program Kabupaten Bandung Sehat 2007,Gerakan Bersih Lingkungan Setiap Saat, Bandung 2005.
- Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung, Buku Saku Pengembangan Desa Siaga Di Kabupaten Bandung, Bandung 2008.
- Stikes Dharma Husada Bandung, Buku Panduan Desa Siaga, Bandung 2006.








PENGKAJIAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS DAYEUHKOLOT


Diajukan Sebagai Syarat Mengikuti Pemilihan Tenaga Kesehatan Teladan Provinsi Jawa Barat Tahun 2009


Oleh :
R. Vini Adiani Dewi, dr.
Nip. 197201162002122002

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar